Flash News
Mail Instagram Pinterest RSS
MENU UTAMA

Maliq & D'Essential Lebih Ngepop di Album Baru


angan kaget bila mendengar single terbaru Maliq & D'Essential. Pilihanku, tembang andalan album terbaru Maliq & Essential berjudul "Mata Hati Telinga", lebih bernuansa ngepop.

Pilihanku ini berbeda sekali dengan lagu-lagu andalan dari dua album terdahulu, seperti Terdiam maupun The One yang tergolong jazzy dengan beat nge-groove ala R&B. Sepertinya kelompok musik ini tengah berevolusi ke aliran pop.

Perubahan ini dilakukan Maliq bukan untuk mengikuti pasar. Angga (vokal), Indah (vokal), Widi (drum), Jawa (bass), Ifa (keyboard), Amar (trumpet), dan Lale (gitar), membuat perubahan pada musik mereka sebagai bagian dari evolusi yang berlaku.

Secara musikalitas, album terbaru yang sudah rilis sejak satu bulan lalu itu, jauh lebih kaya dan komplet dari sebelumnya. Bahkan, Maliq juga tidak ragu menyebut album ini sebagai album "Maliq banget".

"Di album ini kami kembali ke akar karena sebenarnya kami bukan band yang jazz-jazz amat. Unsur musik kami itu sebenarnya banyak dipengaruhi pop, rock, ada juga jazz, soul, serta R&B. Itu yang ingin kami tunjukkan di sini," tutur vokalis Maliq & D'Essential, Angga.

Lanjut Widi, bila selama ini orang mengidentikkan mereka sebagai band jazz, memang tidak bisa disalahkan. Sebab, musik mereka memang banyak memasukkan unsur musik tersebut. Selain itu, Maliq juga ingin memperlihatkan karakter musik yang berbeda dari yang sudah ada. Melalui album pertama, 1st dan album kedua "Free Your Mind", Maliq menghadirkan balutan jazz, R&B, dan soul sebagai unsur utama dari musik mereka. Sementara unsur rock dan pop, menjadi bagian kesekian dari musik. Namun, di album ketiga ini, mereka membalik formula yang telah berlaku tersebut.

"Di album ini unsur rock dan pop, kami jadikan sebagai musik utama. Sementara R&B dan jazz, menjadi warna tambahan," ucap Angga.

Menurut Angga, itu wajar terjadi. Itu menjadi bagian dari evolusi musik yang mereka alami setelah tujuh tahun mengibarkan bendera Maliq. Itu juga terlihat dari pemilihan format album ketiga, hanya sebagai mini album, yang terdiri atas enam track. Mengenai hal ini, Maliq memang hanya ingin menawarkan yang terbaik. Di mana semua lagu yang didengarkan, akan menjadi hits.

"Rencana semula memang full album. Namun, akhirnya kami putuskan mini album dengan enam lagu yang memang terbaik. Tidak ada lagu yang sifatnya filler," ucap sang penggebuk drum, Widi.

Proses pembuatannya pun tergolong singkat. Album tersebut mulai digarap pada September 2008, dan selesai dua bulan berikutnya. Namun, yang membuat album tersebut baru rilis enam bulan kemudian adalah proses finishing-nya yang tergolong lama.

Angga cs memang ingin album ini benar-benar beda dari dua album sebelumnya. Bukan hanya dari materi yang berbeda, juga dari tampilan art cover CD yang dibuat unik. Pada album terbaru tersebut, cover dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dibentuk menjadi kotak. Desainnya terlihat rumit. Namun, kalau disusun dengan baik, bentuknya akan terlihat unik dan sangat catchy.

"Kami memang ingin full pacakaged. Sebuah album yang dibuat dengan pemikiran yang matang. Inovasi lengkap, baik itu lagu, maupun cover yang memiliki makna sesuatu," kata Angga.

"Kami ingin memperlihatkan, kalau orang bilang, CD tidak laku. Di sini, orang beli CD kami sebagai sebuah collectable item. Bukan cuma membeli lagunya," papar Angga.

Untuk album ketiga ini, Maliq masih menggandeng Warner Music Indonesia, sebagai label untuk pemasaran dan promosi. Sementara untuk produksi, Maliq membidani sendiri album ini melalui label mereka, Organic Record. Sebagai produser album ini, Maliq mempercayakan kepada musisi Eq Puradiredja (Humania). Saat ini, Maliq tengah menyiapkan single kedua. Namun, untuk single kedua ini, mereka sangat berhati-hati. Maliq mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak, terutama dari media dan fans mereka.

Maliq ingin, lagu kedua mereka memperlihatkan sosok Maliq, yang selama ini dikenal publik. Di antara lima lagu tersisa, menurut Angga, ada dua kandidat terkuat yaitu Luluh dan Coba Katakan. Luluh, menurut para personel Maliq, sarat nuansa musik 1970-an. Di mana Maliq memasukan unsur brass dan classic soul pada lagu tersebut. Sementara Coba Katakan, dianggap mewakili sosok Maliq pada album kedua. Liriknya tidak pakai basa-basi, dengan unsur distorsi yang menjadi pewarna lain dari lagu ini.

Perubahan musik juga tidak lepas dari hadirnya wajah baru pada band. Pada line up Maliq, muncul nama Arya Aditya Ramadhya, yang akrab disapa Lale, mengisi posisi gitar. Kehadiran Lale, menggantikan gitaris lama Maliq, Satrio yang hengkang pada akhir 2007, memberi warna lain pada Maliq. Pria kelahiran Jakarta, 29 April 1987, itu dinilai memiliki karakter yang kuat, bukan semata kepiawaian permainan gitar. Selain itu, personel Maliq sudah merasa cocok dengan gaya permainan Lale.

"Kami dengar dia waktu mengisi album RAN. Kami undang main, ternyata cocok. Ya sudah, kami langsung jalan," kata Widi.

Lale sendiri mengaku sangat senang berada di Maliq. Sebab, Lale diberi peran sama seperti anggota band lainnya, bukan hanya sebagi pengisi kekosongan Satrio. Sebagai buktinya, karya Lale, Mata Hati Telinga, menjadi lagu penting di album tersebut.

Lagu tersebut juga dijadikan judul album. Karya yang memiliki nuansa rock itu, menjadi lagu pertama yang diperkenalkan kepada publik, jauh sebelum Pilihanku diperkenalkan. "Lagu ini padahal sangat melenceng dari musik kami. Tapi, kami sangat senang memainkannya. Respons penggemar pun sangat baik," kata Widi. (Laporan & Foto: Okezone)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberi komentar.